Lompat ke konten

Istiqomah diatas Keimanan

Istiqomah diatas Keimanan

Khutbah I

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أُوْصِيْ نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيّ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَمَّا بَعْدُ

نَصُّ الحَدِيْثِ وَشَرْحُهُ

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رَوَاهُ مُسْلِم)

Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’

Hadis ini termasuk salah satu wasiat agung Rasulullah ﷺ yang menggabungkan seluruh ajaran Islam dalam dua kalimat pendek tetapi sangat luas maknanya. Ketika sahabat Sufyān bin ‘Abdillāh ats-Tsaqafī meminta satu ucapan yang menjadi prinsip hidupnya, Rasulullah ﷺ tidak memberikan penjelasan panjang, tetapi memberikan inti dari seluruh agama:

  1. “قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ” – nyatakan dan kokohkan imanmu kepada Allah.

Ungkapan ini bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi mencakup keyakinan yang mantap di dalam hati, kejujuran dalam ibadah, dan ketundukan total kepada Allah. Iman adalah pondasi, fondasi dari seluruh amal. Tanpa iman yang benar, amal tidak memiliki nilai.

Para ulama menjelaskan bahwa iman yang benar terdiri dari tiga unsur: diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan.

Maka seorang Muslim tidak cukup hanya mengaku beriman, tetapi ia harus membuktikannya melalui ketaatan, akhlak, dan perbaikan diri.

  1. “ثُمَّ اسْتَقِمْ” – kemudian istiqamahlah.

Istiqamah artinya berjalan lurus di atas ketaatan tanpa menyimpang. Dalam istilah ulama: “Tetap berada di jalan kebenaran tanpa condong kepada maksiat, hawa nafsu, dan kelalaian.”

Istiqamah mencakup beberapa hal:

  1. Istiqamah dalam ibadah: menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan rutin melakukan kebaikan.
  2. Istiqamah dalam akhlak: jujur, amanah, tidak menyakiti orang lain.
  3. Istiqamah dalam meninggalkan dosa: menahan diri dari godaan meski lingkungan buruk.
  4. Istiqamah dalam menghadapi ujian: sabar saat sulit, tidak berputus asa.
  5. Para ulama mengatakan: “Istiqamah itu lebih berat daripada melakukan seribu karamah.”
  6. Karena istiqamah menuntut konsistensi, bukan hanya semangat sesaat.
  7. Karena amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit. (Hadis lain)

Istiqamah menunjukkan kesungguhan dan kejujuran iman, Istiqamah menjadikan hidup lebih terarah, tenang, dan penuh keberkahan. Tanpa adanya istiqamah, iman akan lemah dan mudah goyah dipengaruhi lingkungan, syahwat, dan bisikan setan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah Setelah iman ditegakkan, Rasulullah ﷺ memerintahkan, “kemudian istiqamahlah.” Inilah perjalanan panjang seorang Muslim. Istiqamah berarti tetap berada di jalan ketaatan, berjalan lurus tanpa menoleh kepada maksiat dan godaan dunia. Istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah tergelincir, tetapi ketika ia jatuh, ia bangkit kembali; ketika ia lemah, ia berdoa; ketika ia tergoda, ia mengingat Allah. Istiqamah adalah keteguhan yang tumbuh dari kesadaran bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju akhirat.

Dalam kehidupan sehari-hari, istiqamah tercermin dari hal-hal sederhana namun terus-menerus dilakukan: menjaga shalat lima waktu, menjaga lisan agar tidak menyakiti, bersikap jujur dalam pekerjaan, menjauhi yang haram meski tidak ada yang melihat, serta membiasakan kebaikan meski kecil. Amal yang sedikit tetapi terus dilakukan lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesekali dikerjakan.

Hadis ini seakan mengajarkan bahwa kekuatan seorang Muslim bukan diukur dari banyaknya kata, tetapi dari keteguhan hati dan konsistensi amalnya. Dengan iman yang kokoh dan istiqamah yang dijaga, seorang hamba akan menemukan ketenangan, arah hidup, serta perlindungan Allah dalam setiap langkahnya.Hadis ini seolah berkata: “Bangunlah hidupmu dengan dua hal: iman yang kokoh dan istiqamah yang berkelanjutan.” Dua hal inilah yang akan menyelamatkan seseorang di dunia dan akhirat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas seorang Muslim bergantung pada keteguhan imannya dan konsistensi amalnya. Iman tanpa istiqamah akan mudah rapuh, dan istiqamah tanpa iman tidak memiliki arah. Maka marilah kita memperkuat keduanya.

Khutbah II

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

خُطْبَةُ الْجُمُعَة

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي وَسَقَانِي، وَكَفَانِي، وَآوَانِي، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ

أُوْصِيْ نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوْهُ وَأَطِيْعُوْهُ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

قَالَ تَعَالَى

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

وَصِيَّةُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيّ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ أُمَّةِ الْإِسْلَامِ، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالثَّبَاتَ حَتَّى الْمَمَاتِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *